Selasa, 30 Mei 2017

Kabar Kampusku : Birokrat (sedang) Panik!

Kabar Kampusku : Birokrat (sedang) Panik!
Oleh : Fajar Subhi

Berangkat dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “ Refleksi Hari Pendidikan : Apa Kabar Wahai Kampusku? “, mungkin akan terjawab dengan beberapa hal yang telah terjadi selama beberapa hari ini.  Pun, selain itu juga, ini merupakan keresahan yang ingin saya sampaikan mengenai kampus –yang merupakan miniatur peradaban- dan permasalahannya (yang akan sedikit saya sampaikan). Permasalahan yang meliputi mahasiswa, dosen bahkan karyawan di kampus ini.
Bertempat di Apres, Rabu (10/7), tim aksi dari Fakultas Ilmu Sosial (Red Soldier) mengadakan diskusi terbuka yang mengundang seluruh elemen mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa, dosen dan karyawan pun tidak luput untuk akhirnya diundang dalam diskusi tersebut. Diskusi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat UNJ ini menghasilkan sebuah gerakan berupa aliansi[1].
            Kabar kampusku, birokrat (sedang) panik! Kenapa kok gitu? Ketika kami memasang banner untuk mempropagandakan diskusi tersebut, malah dicabut demi estetika kampus atau alasan  tertentu. Pamflet-pamflet yang kami sebar pun juga ludes dicopot oleh pihak birokrasi kampus. Kemana letak kebebasan menyampaikan pendapat? Banner dan pamflet yang kami sebar malah dicopot. Baru mau diskusi loh, belum aksinya, pak!
            Apakah demokrasi di kampus ini sudah musnah? Nampaknya, doi sedang panik, sibuk mengisi list orang-orang (mahasiswa dan dosen) yang tengah menulis kritikan untuknya. Bersyukur, pak, ada yang mengingatkan untuk perbaiki diri. Tetapi, responnya ternyata negatif. Dibuktikan dengan keluarnya surat pemanggilan kepada Pak Ubedilah (selaku dosen Sosiologi) oleh kepolisian.
            Pak Ubedilah diasumsikan terjerat Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 310 KUHP dan atau pasal 311 KUHP. Menerangkan bahwa Pak Ubedilah –atas tulisannya yang dibuat untuk mengkritik- bertindak salah karena pencemaran nama baik, menurutnya. Jadi teringat pada sistem diberlakukannya NKK/BKK pada Orde Baru. Ketika seluruh kegiatan diskusi, budaya mengkritik, dan suatu perkumpulan yang berbau perlawanan mendapat represivitas yang membuat mahasiswa hilang dan dibuang. Apa bedanya birokrasi kampus ini dengan Orba saat itu?
             (Mari hanturkan) Innalillahi, telah berpulangnya demokrasi di UNJ. Seyogyanya, seorang Pimpinan Universitas itu, profesional dalam menanggapi kritikan. Menanggapinya secara intern, bukan ekstern dengan menggunakan aparat kepolisian sebagai tameng “citra” yang dimilikinya. Dosen juga partner bapak, ya. Pastikan mahasiswa, dosen dan seluruh elemen masyarakat yang merasakan kebobrokan kampus kita, datang untuk diskusi (lagi). Bergeraknya aliansi ini atas dasar kepedulian terhadap kampus tercinta. Maka sampaikan kepada seluruh masyarakat UNJ yang masih peduli dengan kampus ini, agar merapatkan barisan perjuangan demi mewujudkan kampus peradaban. Salam Peradaban!  Hidup Rakyat UNJ!



[1] http://unjkita.com/press-release-apa-kabar-wahai-kampusku/

Refleksi Hari Pendidikan : Apa Kabar Wahai Kampusku?

Refleksi Hari Pendidikan : Apa Kabar Wahai Kampusku?
Oleh : Fajar Subhi (Mahasiswa FIS UNJ)

            Masih terngiang di pikiran kita semua mengenai Hari Pendidikan. Bersorak sorai masing-masing elemen masyarakat dalam memperingati Hari Pendidikan. Ada yang memperingatinya dengan cara pawai pendidikan, festival bertajuk pendidikan, aksi turun ke jalan hingga refleksi malam. Tiada yang salah selagi dalam memperingati pendidikan dengan terdidik.
Kampusku, yang dikatakan sebagai kampus pendidikan dengan lulusan (pada umumnya) sebagai tenaga pengajar. Apa kabar wahai kampusku? Wisma yang dirubuhkan dan akan dibangun hotel, untuk apa?  Hingga banyak komersial yang masuk ke dalam kampus (pendidikan) dan mengadakan acara ‘hedon’, dalam artian jauh dari kultur pendidikan. Kemana habitus intelektual dalam suatu miniatur peradaban?
Dalam struktur sosial, ada kekuasaan dan wewenang. Kekuasaan itu penting dalam suatu birokrasi. Kekuasaan itu bagaimana kemampuan (penguasa) dalam mempengaruhi (yang dikuasainya). Hal tersebut didapatkan dari kedudukan dan kepercayaan (Haryanto, 2005). Baiklah, dari segi kedudukan seorang pimpinan universitas memang sah secara legalitas. Apakah dari segi kepercayaan telah didapatkan olehnya? Kekuasaan yang bersumber dari kepercayaan hanya muncul di masyarakat di mana anggota-anggotanya mempunyai kepercayaan yang dimiliki pemegang kekuasaan. Artinya, bisa dikatakan bahwa kebanyakan masyarakat UNJ yang belum mempercayakan pada pimpinannya. Kenapa? Atas perilaku yang diperbuat.
Saya dengar ada beberapa (bahkan banyak) dosen yang mengkritik seorang pimpinannya malah di tangkis secara unprofesional. Ada ungkapan bahwa mereka (dosen yang mengkritik) dipanggil polisi. Saat 2 Mei kemarin, ketika perwakilan massa aksi ingin melakukan agitasi mengelilingi UNJ dengan menggunakan mobil sound, malah dijegal. Alih-alih mengganggu keamanan kampus, padahal apa yang kami lakukan dijamin sesuai amanat UU No.9 tahun 1998 tentang kebebasan berpendapat. Masih teringat pada awal tahun 2016 atas keluarnya SK pengeluaran Ronny Setiawan karena sikap kritis terhadap Rektor. Membuktikan bahwa sikap yang anti kritik dan anti demokrasi ini terjadi disuatu ruang demokrasi (kampus). Seharusnya, pemimpin itu besar dengan kritik.
Dimana letak habitus intelektual suatu kampus pendidikan? Seyogyanya suatu kampus pendidikan di isi dengan kultur pendidikan, hidupnya budaya diskusi dan literasi, lengkapnya suatu literatur perpustakaan, hingga birokrasi yang berpihak terhadap mahasiswa. Karena menurut Peter Blau, suatu birokrasi ialah suatu tipe organisasi untuk menyelesaikan tugas administratif. Artinya birokrasi ini menjadi daya pendukung dalam kegiatan kemahasiswaan. Bagaimana realitanya? Teman-teman yang bisa menjawabnya.

Bagaimana kemajuan kampusku? Permasalahan diatas hanyalah segelintir. Masih banyak yang belum tercantumkan. Akankah hati mahasiswa sudah tumpul? Kemana langkah pergerakan mahasiswa dalam memperbaiki rumahnya yang concern di bidang pendidikan? Akankah terciptanya suatu perubahan besar? Apabila mekanisme, kebijakan, dan sikap birokrasi kampus tidak adanya perubahan bahkan semakin memburuk, akankah diam saja? Periksa kembali hati kita. Lakukan apa yang harus dilakukan oleh Mahasiswa.

Resume Buku : Aksi Massa (Tan Malaka)

Aksi Massa (dalam Konteks Keindonesiaan)
Oleh : Fajar Subhi

            Revolusi merupakan penciptaan dari berbagai macam keresahan. Timbul dengan alamiah dan spontanitas. Dalam hal ini dalam rangka menghancurkan suatu aristokrasi yang mempertahankan hak-haknya, sebagai contoh Revolusi Borjuasi yang tergulingnya Raja Prancis. Revolusi menciptakan kekuatan moral dan mengentaskan kelaliman untuk mencerdaskan pikiran serta mendirikan masyarakat baru.
            Indonesia memiliki riwayat yang abstrak. Sulit sekali menemukan sifat kebudayan bangsa Indonesia yang asli. Hindu, Buddha dan Islam adalah produk impor. Indonesia didesak oleh bangsa Tionghoa dan Hindu yang melarikan diri ke nusantara. Menggunakan vintas (perahu) untuk mengarungi pulau-pulau yang ada di Indonesia. Tetapi, hal tersebutlah yang menyebabkan bangsa Indonesia mengenal dunia luar dan mengalami keterbukaan.
            Empu Sedah, Tarunajaya dan Diponegoro ialah tokoh yang saat itu menentang pemerintahan Belanda. Empu Sedah dengan pesimistisnya meramalkan bahwa yang akan memimpin mereka ialah orang asing, dan itu pun terjadi (dipimpin oleh Mas Garendi yang berketurunan Tionghoa-Jawa). Masuknya paham Islamisme yang dibawa oleh Malik Ibrahim (1419). Tarunajaya berada dalam keadaan genting, ia berdiri diantara Raja, Belanda dan kawan lamanya. Sedangkan Diponegoro, melawan dengan cara jihad dibantu oleh Kyai Mojo -dengan perjuangan- kaum borjuasi Islam-Jawa yang menentang kapital Barat yang disokong oleh satu kerajaan yang hampir tenggelam (Mataram). Dengan ini riwayat Indonesia pun masih abstrak, tetapi memang harus lepas dari imperialisme.
            Lalu sebenarnya imperialisme apa yang menjajah Indonesia? Yakni imperialisme autokratis, yaitu yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia dengan menetapkan aturan-aturan atau semacam pasal. Indonesia kini dan nanti, merupakan kejadian yang semata-mata ialah perbuatan manusia Belanda. Tatkala Belanda mengarahkan kapal pembajaknya ke Indonesia, waktu itu negeri mereka hanyalah negeri tani dan warung kopi kecil-kecil.
            Kapitalisme di Indonesia tergolong masih muda. Dalam hal industri, indsutri pertanian masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera. Kapitalisme memisahkan antara desa dan kota. Di kota tempat memproduksi suatu barang, sedangkan di desa tempat sumber daya alam yang diangkut ke kota. Pada tahun 1790 di kota-kota berdiam 3,4% dan di desa-desa 96,6 % penduduk dari total seluruh penduduk, dan pada tahun 1920 menjadi 51% dan 49%, salah satu contoh (data) yang membuktikan secara nyata pada kita perihal kemajuan kota-kota Amerika, sebagai akibat kemajuan industrialisasi (The Relation Government to Industry, M.L Reg ua). Pun, kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara produksi bumiputra, melainkan dipergunakan untuk kepentingan asing.
            Aksi massa merupakan perwujudan atas merubah keadaan sosial rakyat Indonesia. Dimula dengan suatu kemelaratan dan kegelapan suatu masyarakat itu sendiri. Biasanya, untuk masyarakatnya sendiri terbebani dengan pajak dan yang menjadi buruh justru diupah dengan gaji yang minim. Sampai saat ini pun Indonesia masih belum mengenal hak atas kepemilikan yang kita (Indonesia) miliki. Kelaliman dan perbudakan sering terjadi, pun dengan aspirasi rakyatnya yang tidak didengar. Sangat terlihat ketimpangan  sosial di Indonesia, ketika dahulu keuntungan besar dari gula, minyak, karet, kopi, teh dan lain-lain mengalir ke Eropa (Belanda). Indonesia hanya dijadikan alat hisap untuk Belanda menanamkan kekayaan. Politik pun masih belum kepemilikan untuk masyarakat umum. Seyogyanya ketika dalam rapat mempunyai hak yang sama antara lelaki dan perempuan. Hanya undang-undanglah yang berkuasa. Dewan rakyat pun tidak dapat memiliki peran perwakilan untuk rakyat banyak.
            Dengan itu, maka akan terjadinya Revolusi. Namun, revolusi Indonesia berbeda dengan yang lain. Menentang feodalisme dan kelaliman jajah oleh bangsa Belanda yang menindas dan menghina mereka. Pada umumnya bangsa Indonesia tampak modern dengan kapitalismenya, namun kuno dengan secara pikirannya. Putch, suatu aksi gerombolan kecil dan tak berhubungan dengan rakyat. Aksi seperti ini tidak akan ada hasilnya. Dibutuhkan aksi massa yang terencana akan memperoleh kemenangan. Tidak mengenal fantasi kosong dan ini berasal dari orang banyak yang menyadari bahwa kemelaratan semakin besar dan siap mengalami (suatu) kekerasan. Dengan aksi ini perjuangan kita dapat dijaga, pemimpin boleh berjalan sekian  jauh menurut kepatutan yang perlu. Membutuhkan pemimpin yang revolusioner, cerdas, tangkas, sabar dan cepat. Pun menguasai mengenai wawasan sosial politik.
            Berdirinya BO, NIP dan SI merupakan upaya-upaya pra kemerdekaan. Kesatuan dalam aksi masih belum tercium aromanya dalam upaya memerdekakan Indonesia. Memiliki kepentingan masing-masing. Dalam aksi –massa yang konsisten atas- kita tidak dapat dibatasi seperti halnya memerdekakan Indonesia. Lebih dari hal itu, aksi massa dalam memiliki rasa tanggung jawab terhadap Indonesia pun penting. Ini merupakan lanjutan dari aksi massa bagaimana kita dapat (benar-benar merdeka) mensejahterakan masyarakat Indonesia tanpa ketergantungan (secara kolot) dengan  bangsa lain (Belanda khususnya). Tetapi, dalam hal menuntut ilmu di negeri Belanda (barat) tidak masalah. Memang harus diakui bahwa sistem pendidikan disana sangat baik.

            Teruntuk kaum revolusioner harus mempersiapkan barisan secepatnya, dalam menanggapi kasus-kasus yang terjadi. Tunjukkan bahwa merdeka ialah bukan hanya sekadar kata yang terucap dari mulut. Merdeka ialah ketika dapat menyampaikan materi dan ide, kebuktiannya dalam mencintai negaranya agar dapat merdeka secara hakiki. Bagaimana kalau kita yang merupakan angkatan revolusioner? Bersiap, kita tuntun massa yang rugi-dirugikan (karena ketidakadilan pemerintah) untuk merapat dalam panji revolusioner dan menghadang autokratis (dan sejenisnya). Karena aksi massa akan terjadi karena kepentingan bersama dan memiliki perasaan yang sama. Jaga tanah air ini, dengan segala yang kita miliki hingga jiwa taruhannya. Rapatkan barisan, karena dengan bersama akan menjadi kokoh dan massif dalam menuntut kemerdekaan yang hakiki.

Jumat, 17 Februari 2017

Dia yang Maha Baik

           Dia yang Maha Baik

Di suatu malam, mata ini tak terpejam..
Menyaksikan lembaran yang terukir
Oh untuk apa? hanya ingin evaluasi.
Bukan untuk berjalan mundur, ataupun berbalik arah.

Diri ini hanya manusia, begitu sederhana yang hina.
Ya, diri ini bukan orang baik.
Lantas? Dia-lah yang Maha Baik.
Bagaimana tidak, orang-orang sekitar beropini baik terhadap diri ini.
Dia yang menggiringi opini baik tsb.

Oh, malu.
Apa yg telah diri ini lakukan terhadap-Nya?
Beropini buruk pada-Nya.
Huft, diri ini...

Malam pun memberikan kelembutan hembusannya..
Masuk kedalam pikiran dan jiwa ini.
Untuk? autocorrections.
Ya.

Sudahlah, lupakan dia. Sudah ada jenderalnya.
Tujuannya mulia, kok.

Kemudian?
Jalan terus.
Temukan bunga indah didepanmu, yang telah menunggu.

Sekali lagi, Dia Maha Segalanya.
Dia yang telah menutup aib-aib ini.

#sajakmalam
#hembusankata 

Rabu, 12 Oktober 2016

Rakyat Harus Cerdas dalam Berpolitik

Politik saat ini tengah mengalami pembiasan makna yang cukup signifikan. Dahulu politik digunakan sebagai alat yang menyatukan warga negaranya. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad, saat itu membuat regulasi atau kebijakan yang bernama Piagam Madinah. Politik merupakan suatu alat yang bersifat memaksa. Hingga sampai saat ini, politik dapatdijadikan alat sebagai neo diktatorisme (atau orde baru versibaru) dan mendapatkan modal kembali (setelah mengeluarkannyadalam rangka tebar pesona).Sudah 71 tahun bangsa ini merdeka, melepaskan diri dari ikatan penjajah dan kolonialisme. Namun, bagaimana dengan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945?belum terwujud dengan baik sampai saat ini. Setelah kita melepaskan diri dari penjara kolonial, kok saat ini seperti masuk penjara yang baru? Penjara yang dibuat oleh saudara-saudarakita sendiri. Semakin banyak pejabat yang berjaya, semakin banyak rakyat biasa yang tak kunjung bahagia? Yang kaya makin jaya, yang miskin makin fakir, yang biasa makin biasa saja.Begitu panjang perjalanan politik yang ada di Indonesia. Politik sebagai ajang kapitalisme dan penindasan. Kini, politik menjadi industrialisasi. Para calon pemimpin melakukan tebar pesona, berbagi rezeki yang mereka punya atas nama pencitraan bahwa mereka lah yang layak menjadi pemimpin mereka. Lah? Bukankah pemimpin itu merupakan contoh teladan bagi rakyatnya? Yang cerdas, benar, amanah dan menyampaikan (transparan, tidak menyembunyikan), bukan yang bagi-bagi sembako dan baju koko. Ya, kalau ada yang seperti itu ambil saja, tapi jangan pilih orangnya, hehe. Kondisi menggambarkan keadaan politik yang bertujuan menanamkan investasi dalam bursa demokrasi. Memberi peluang kepada cukong-cukong(makelar/mafia politik) ikut bermain didalamnya. Para pengusaha akan memberi modal kepada kandidat pemimpin sebagai biaya memperebutkan kekuasaan. Banyak cukong sukses membangun kerajaan bisnis berawal dari keterlibatannya membiayai kandidatnya menjadi pe(nguasa)mimpin atau mesin uang untuk pemilik modal, seperti proyek saja ya ckck. Bagaikan 2 sisi mata pisau. Mata pisau yang satu untuk kebajikan , dan yang satu untuk menindas yang lemah. Suatu kemunafikan yang luar biasa. Di sisi pemerintah membuat kebijakan untuk kebaikan bersama, tapi di sisi lain pun sekaligus menindas rakyat yanglemah. Terlihatnya apartemen yang megah, tetapi dibelakangnya terdapat warga yang tak terurus.Sebentar lagi kita akan merasakan atmosfer Pilkada. Rakyat tidak boleh dibodohi. Maka, kita harus pandai dalam mencarisosok pemimpin yang kita rindukan.“ Rakyat itu badan dan jiwa bangsa. Rakyat yang menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat kita. Hidup atau matinya bangsa tergantung kepada semangat rakyat...” -Bung Hatta. Ingatlah bahwa kesalahan pemimpin merupakan kesalahan rakyat. Bahwa pemimpin merupakan proyeksi dari rakyat. Tetapi kita tidak boleh hanya berdiam diri. Kita tegur bapak kita, ingatkan akan apa yang ia janjikan saat kampanye dan kekhilafannya. Bergeraknya rakyat akan menentukan masa depan rakyat. Maka rakyat tidak boleh diam ketika saudara-saudarakita ditindas dan dirugikan. Pun, mahasiswa sebagai elemen dari rakyat harus menjadi poros tengah dalam perpolitikan di negeri ini, menjadi penghubung antara rakyat dengan pemerintah. Tidak dapat dipungkiri, sejak dahulu mahasiswa menjadi motor dalam bergeraknya rakyat dan menjadi pendesak pemerintah. Akankah mahasiswa (masih) diam saja? Bergeraklah!

Selasa, 16 Agustus 2016

Gunung Salak, antara Mistis dan Optimistis

Gunung Salak, antara Mistis dan Optimistis

Diselang waktu untuk beristirahat, kami meluangkannya untuk berpetualang dan mendaki Gunung Salak. Atas dasar keinginan yang kuat dalam mencapai puncak Manik Salak 1. Berjuta cerita tentang Gunung Salak yang membuat kami semakin penasaran dan akhirnya pun kami berangkat. Rasa menggebu kami semakin menjadi dan persiapan pun semakin matang.

Kami mulai mendaki dari Pasir Reungit. Sambil berjalan, kami semakin saling mengenal satu sama lain. Dengan cuaca yang sejuk diiringi dengan rintik gerimis. Kami nge-camp di Pos Bajuri karena waktu yang kurang untuk mencapai Puncak Manik. Saya merasakan kehangatan walau keadaan disana dingin dan turun hujan. Karena disini kami bisa saling mengisi dan saling memotivasi. Hal yang luar biasa baru pertama kali saya rasakan mendaki Gunung Salak yang sangat menguji adrenalin.

Cerita mistis yang menyelimuti Gunung Salak. Tidak membuat kami gentar untuk terus berjalan hingga Puncak. Setiap pendakian punya cerita (mistis). Sebenarnya, hanya saja bagaimana kita menyikapi itu. Menjaga lisan, sikap dan tidak merusak/mengambil itu adalah kunci dalam menghormati alam. Jangan lupa berdoa dan mengingat Allah. Optimistis adalah hal untuk mencapai ambisi dan sikapi ke-mistis-an itu dengan bijak. Mendaki bukan hanya sekadar mengunggah foto dan memuaskan ambisi, banyak sekali hikmah yang akan kita dapatkan. Alhamdulillah dan terima kasih atas kebersamaan teman-teman (yang menjadi keluarga baru). Sampai jumpa dalam kesempatan lain.

#Hiking #GunungSalak #Adventure