Kamis, 23 November 2017

Gerakan Nyata dalam Membangun Bangsa

Gerakan Nyata dalam Membangun Bangsa
oleh : Fajar Subhi

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi2017

Mengenai suatu pergerakan, saya lebih mendekat pada suatu makna kepedulian. Ketika ada suatu kelompok yang ingin membantu kelompok lainnya yang sedang dalam keresahan. Karena berbagai macam faktor,terkhusus pada kebijakan para elit politik dan pemerintah yang hanya menguntungkan pihak mereka. Para wayang yang dijadikan objek tidak merasakan keuntungan bahkan tertindas karena kebijakan tersebut. Ini saatnya kita sebagai pemuda dan mahasiswa dalam membentuk sebuah gerakan yang mengkritisi dan melawan kezaliman pemerintah. Pada awal abad 20 keadaan Indonesia masih terjajah oleh Belanda. Tetapi para pemuda tidak hanya tinggal diam. Mereka terus belajar bagaimana Indonesia bisa terlepas dari rantai perbudakan.

Ada berbagai macam pergerakan saat itu, ada Sarekat Islam, Boedi Oetomo. Para pemuda didalamnya bukan hanya mendirikan, tetapi memikirkan bagaimana hal ini bisa menjadi pergerakan. Mereka juga membuat jurnal, ada Sinar Djawa, Medan Bergerak, Medan Prijaji, Islam Bergerak dll. Tercatat beberapa nama seperti Samanhoedi, Misbach, Tjipto, Tjokroaminoto dan masih banyak lagi yang aktif dalam pergerakan pada saat itu. Disusul dengan Soekarno, Hatta, Ahmad Yani dll. Mereka berjuang untuk merebut tanah air dari belenggu penjajah.

Kemudian sebelum itu Tjipto dan Soewardi mendirikan Komite Bumiputra untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang terdiri atas Tjipto sebagai ketua, Seojatiman sebagai wakil, Soewardi sebagai sekretaris dan Wignjadisastra sebagai bendahara dan menerbitkan tulisan Soewardi “Als ik eens Nederlander was”, tulisan yang paling radikal saat itu. Mengkritik pemerintah hindia belanda, masalah dominasi dan penundukan kolonial.

Saat ini kita harus mempertahankan tanah air ini dan mengisi kemerdekaan. Aksi adalah hal yang harus kita lakukan. Aksi intelektual, aksi sosial dan aksi jalanan. Pada aksi intelektual, ketika kita sedang berada di dalam kelas. Belajar, berdiskusi dan menulis adalah aksi intelektual. Tetapi tidak hanya itu saja, mengimplikasikannya itu penting sebagai output atas pelajaran yang telah didapatkan. Selain itu, menulis opini dan mengkritik pemerintah atau birokrasi melalui media dan cara-cara kreatif juga termasuk aksi intelektual.

Kemudian aksi sosial, yakni mengadakan kegiatan sosial dan secara langsung kita terjun ke masyarakat. Banyak hal yang bisa kita lakukan disini, seperti bakti atau donasi sosial, santunan, buka bersama di panti asuhan, mengajar dan mengabdi. Itu merupakan aksi sosial yang dapat meringankan orang-orang yang membutuhkan serta membangun peradaban. Lewat aksi tersebut kita dapat mengajar anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan formal di sekolah, dengan mengajarkan membaca, menulis dan menghitung. Salah satu aksi yang luar biasa ialah Sokola Rimba yang diinisiasi oleh Butet Manurung[1]

Terakhir yaitu aksi jalanan. Ketika sudah terjadi ketidakwarasan pemerintah dalam membuat kebijakan dan bersikap. Misal dalam menjalankan proyek Reklamasi. Sudah jelas proyek reklamasi membuat masyarakat di sekitar pantai Jakarta dan sekitarnya merugi. Terkhusus masyarakat yang tinggal disana, yang notaben bermatapencaharian sebagai nelayan menjadi terganggu dalam mencari ikan. Karena laut menjadi keruh dan kotor. Sehingga para nelayan harus melaut lebih jauh dari biasanya dan akibatnya bertambah ongkos untuk solar yang biasanya hanya butuh 30 liter menjadi 40 liter. [2] Aksi massa menjadi sebuah jalan untuk mendesak pemerintah agar memberhentikan proyek reklamasi. 

Ketika pemerintah sudah semena-mena dalam membuat kebijakan dan regulasi yang hanya menguntungkan pihak mereka. Yang masyarakat rasakan ialah keresahan dan kesusahan. Dalam hidup, memenuhi kebutuhan pokok, menuntut ilmu, membuat reklamasi, mengadakan uang pangkal dan masih banyak. Kita melakukan aksi ini karena memang mendesak pemerintah untuk mendengar aspirasi dan menuntut untuk kebijakan yang pro rakyat. Setelah kita lulus dan memiliki dunia masing-masing, tidak lupa dengan idealisme saat memperjuangkan rakyat untuk menegakkan keadilan. Terkhusus pada kita yang nanti akan terjun ke dunia masyarakat menjadi aktivis sosial, politik dan pemerintahan. Untuk membuat regulasi yang membangun bangsa dan dapat menjadi representatif dari rakyat untuk membangun bangsa Indonesia .                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Daftar Pustaka

Bisri, I. (2004). Sistem Hukum Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
Shiraishi, T. (1997). Zaman Bergerak : Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. (H. Farid, Trans.) Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar