Gerakan Nyata dalam
Membangun Bangsa
oleh : Fajar Subhi
![]() |
| Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi2017 |
Mengenai suatu
pergerakan,
saya lebih mendekat pada
suatu makna kepedulian. Ketika ada suatu kelompok yang
ingin membantu kelompok lainnya yang sedang dalam keresahan.
Karena berbagai macam faktor,terkhusus pada kebijakan para elit politik dan
pemerintah yang hanya menguntungkan pihak mereka. Para wayang yang dijadikan
objek tidak merasakan keuntungan bahkan tertindas karena kebijakan tersebut.
Ini saatnya kita sebagai pemuda dan mahasiswa dalam membentuk sebuah gerakan yang
mengkritisi dan melawan kezaliman pemerintah. Pada awal abad 20 keadaan
Indonesia masih terjajah oleh Belanda. Tetapi para pemuda tidak hanya tinggal
diam. Mereka terus belajar bagaimana Indonesia bisa terlepas dari rantai
perbudakan.
Ada berbagai macam
pergerakan saat itu, ada Sarekat Islam, Boedi Oetomo. Para pemuda didalamnya
bukan hanya mendirikan, tetapi memikirkan bagaimana hal ini bisa menjadi
pergerakan. Mereka juga membuat jurnal, ada Sinar Djawa, Medan Bergerak, Medan
Prijaji, Islam Bergerak dll. Tercatat beberapa nama seperti Samanhoedi,
Misbach, Tjipto, Tjokroaminoto dan masih banyak lagi yang aktif dalam
pergerakan pada saat itu. Disusul dengan Soekarno, Hatta, Ahmad Yani dll.
Mereka berjuang untuk merebut tanah air dari belenggu penjajah.
Kemudian sebelum itu Tjipto
dan Soewardi mendirikan Komite Bumiputra untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan
Belanda yang terdiri atas Tjipto sebagai ketua, Seojatiman sebagai wakil, Soewardi
sebagai sekretaris dan Wignjadisastra sebagai bendahara dan menerbitkan tulisan
Soewardi “Als ik eens Nederlander was”, tulisan yang paling radikal saat itu.
Mengkritik pemerintah hindia belanda, masalah dominasi dan penundukan kolonial.
Saat ini kita
harus mempertahankan tanah air ini dan mengisi kemerdekaan. Aksi adalah hal
yang harus kita lakukan. Aksi intelektual, aksi sosial dan aksi jalanan. Pada
aksi intelektual, ketika kita sedang berada di dalam kelas. Belajar, berdiskusi dan menulis adalah
aksi intelektual. Tetapi tidak hanya itu saja, mengimplikasikannya itu penting sebagai output atas pelajaran yang telah
didapatkan. Selain itu,
menulis opini dan mengkritik pemerintah atau birokrasi
melalui media
dan cara-cara kreatif
juga termasuk aksi intelektual.
Kemudian aksi
sosial, yakni mengadakan kegiatan sosial dan secara langsung kita terjun ke
masyarakat. Banyak hal yang bisa kita lakukan disini, seperti bakti atau donasi sosial, santunan, buka bersama di panti
asuhan, mengajar dan mengabdi. Itu merupakan aksi sosial yang dapat meringankan
orang-orang yang membutuhkan serta membangun peradaban. Lewat aksi tersebut
kita dapat mengajar anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan formal di
sekolah, dengan
mengajarkan membaca, menulis dan menghitung. Salah satu aksi yang luar biasa ialah Sokola Rimba yang
diinisiasi oleh Butet Manurung[1]
Terakhir yaitu
aksi jalanan. Ketika
sudah terjadi ketidakwarasan pemerintah dalam membuat kebijakan dan bersikap.
Misal dalam menjalankan proyek Reklamasi. Sudah jelas proyek reklamasi membuat
masyarakat di sekitar pantai Jakarta dan sekitarnya merugi. Terkhusus masyarakat
yang tinggal disana, yang notaben bermatapencaharian
sebagai nelayan menjadi terganggu dalam mencari ikan. Karena laut menjadi keruh
dan kotor. Sehingga para nelayan harus melaut lebih jauh dari biasanya dan
akibatnya bertambah ongkos untuk solar yang biasanya hanya butuh 30 liter
menjadi 40 liter. [2] Aksi massa menjadi sebuah
jalan untuk mendesak pemerintah agar memberhentikan proyek reklamasi.
Ketika
pemerintah sudah semena-mena dalam membuat kebijakan dan regulasi yang hanya
menguntungkan pihak mereka. Yang masyarakat rasakan ialah keresahan dan
kesusahan. Dalam hidup, memenuhi kebutuhan pokok, menuntut ilmu, membuat
reklamasi, mengadakan uang pangkal dan masih banyak. Kita melakukan aksi ini
karena memang mendesak pemerintah untuk mendengar aspirasi dan menuntut untuk
kebijakan yang pro rakyat. Setelah kita lulus dan memiliki dunia masing-masing,
tidak lupa dengan idealisme saat memperjuangkan rakyat untuk menegakkan
keadilan. Terkhusus pada kita yang nanti akan terjun
ke dunia masyarakat
menjadi aktivis sosial, politik dan pemerintahan. Untuk membuat
regulasi yang membangun bangsa dan dapat menjadi representatif dari rakyat
untuk membangun bangsa Indonesia . Daftar
Pustaka
Bisri, I. (2004). Sistem Hukum
Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
Shiraishi, T. (1997). Zaman Bergerak :
Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. (H. Farid, Trans.) Jakarta: Pustaka
Utama Grafiti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar