Rabu, 31 Mei 2017

Urgensi Solidaritas dalam Gerakan (Mahasiswa)

Urgensi Solidaritas dalam Gerakan (Mahasiswa)

          Mengapa dapat dikatakan pentingnya kebersatuan (solidaritas) dalam gerakan? Penulis yakin bahwa dalam pergerakan dibutuhkan solidasi dalam melakukan aksinya. Dalam bergerak, dibutuhkan adanya ”massa”. Karena hal ini yang akan membuat militansinya suatu pergerakan (mahasiswa).
          Dalam masa-masa akhir (awal abad ke-20) kolonialisme, terbentuklah beberapa organisasi yang merupakan kumpulan yang membentuk massa. Tahun 1905 (dibulan Oktober) berdirilah Sarekat Dagang Islam. Dengan ketuanya yaitu Samanhoedi. Disusul dengan berdirinya BO pada 1908. Kemudian National Indische Partij pada 1912. Namun masil belum bisa mencium aroma kebangsaan Indonesia. BO dan NIP ialah sebuah kumpulan (partai) yang tidak memiliki cita-cita menyingkirkan imperialisme dan cita-cita nasional.
          Keadaan selanjutnya, dalam perjuangannya yang luar biasa beratnya selama beberapa tahun lalu, berhasillah PKI dan SR menghimpun kaum buruh dan revolusioner dari SI (SDI), BO dan NIP untuk bernaung dibawah panji-panjinya. Dalam beberapa aksi daerah untuk tujuan yang kecil-kecil, PKI dan SR sudah menunjukkan kekuatan dan kecakapannya. Tetapi belum kuasa, dimanakah rakyat berjuta-juta di Jawa, Sumatra, Sulawesi? Karena memang belum adanya keterikatan pergerakan yang ber-komando satu.
          Untuk kepentingan pergerakan, sangat banyak yang harus dirahasiakan. Karena suatu hari akan kita ceritakan kepada rekan-rekan seperjuangan dan kepada mereka yang menyetujui kita, bukan putch melainkan solidaritas perjuangan (pergerakan massa).
          Pun, dalam melakukan sebuah pergerakan, semangat saja tidak cukup. Banyak yang memakai istilah kemajuan hidup suatu bangsa dengan istilah semangat. Namun juga, dibutuhkan adanya suatu proses saling merekatkan dalam suatu wadah gerakan.
          Saat ini, kita tengah mengisi kemerdekaan. Menikmati hasil perjuangan para pendahulu kemerdekaan kita yang begitu susah payah memerdekakan negeri ini. Lambat laun, dalam suatu kepemimpinan suatu orde (masa) memiliki egositik. Sebagai contoh orde baru. Sulitnya berkumpul dan menyampaikan pendapat. Membuat kita (mahasiswa) meluapkan kekesalan atas pembungkaman orde baru. Hingga akhirnya, saling memiliki keterikatan dalam suatu pergerakan yang diharapkan. Dengan mula-mula berkumpul dalam suatu forum, tidak sedikit yang menjadi korban atas momentum ini. Singkatnya, terjadilah suatu masa yaitu Reformasi. Terjadi, karena memiliki soliditas yang mumpuni dalam menggerakan sebuah perubahan oleh massa (yang solid).
          Namun, kita kecolongan dalam reformasi ini. Lihat saja apa yang tengah terjadi saat ini. Bentuk reformasi yang kita idam-idamkan diambil alih oleh oknum demokrasi liberal. Yaitu secara seenaknya, semena-menanya, dan sebebas-bebasnya membuat kebijakan yang sporadis. Kebijakan yang dibuat tanpa memperhatikan keadaan masyarakatnya. Hanya menguntungkan beberapa oknum pembuat kebijakan tersebut.
          Berkali-kali mahasiswa melakukan pergerakan. Mencoba mendobrak pemerintahan saat ini yang meRAJAlela. Ya, bagaikan sang Raja dalam suatu demokrasi ini. Namun, bagaimana impact terhadap hasil gerakan mahasiswa? Belantaranya suatu negeri ini.. bagaikan bos yang menyuruh karyawan dan kawan-kawanannya, dan mereka saja yang mendapat nilainya. Bagaimana keadaan rakyat? Dibuat bodoh, bangga atas kebijakan pemerintah yang sporadis, licik sekali pemerintah (keji) ini.
          Akankah kita dalam pergerakan mahasiswa masa Reformasi akan kebal terhadap stigma orang-orang yang terlalu kritis, menyenggol mahasiswa (BEM) betapa ‘lucunya’ melakukan Reformasi (lagi). Mahasiswa berlogika sederhana, ketika ada kelaliman dalam kepemerintahan terhadap rakyatnya, maka LAWAN.
          Solidasi lagi wahai Mahasiswa dalam gerakan ini. Namun, jangan sampai kecolongan lagi saat jilid 2 (nanti, hingga takdir Tuhan yang menentukan). Tetap pada koridor gerakan yang berlandaskan iman. Karena dengan itu, solidasi akan terasa satu sama lain. Maka kita akan menjadi gerakan massa. Bahkan tidak sekadar aktif dan reformatif, tetapi solutif dalam membela rakyat Indonesia. Kau mahasiswa? Saling membangun dan solidasi untuk Indonesia.

-Fajar Subhi-

References


Malaka, Tan. Aksi Massa. Edited by Yogaswara. Jakarta: Narasi, 2016.
Multitama. Keep Fight. Jakarta: Qisthi Press, 2010.
Zain, Umar Nur. Belantara Ibu Kota. Jakarta: Sinar Harapan, 2000.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar